Showing posts with label Kumpulan Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Kumpulan Cerpen. Show all posts

Friday, August 5, 2016

Cerpen : Ramadhan Tiba-tiba Berakhir (Siti Tasniah)



Kalau ada yang gembira menyambut ramadhan di atas kegembiraan rata-rata, maka aku lah orangnya.

Bukan karena pahala dan ampunan, yang seperti dikatakan ustads-ustads di setiap ceramahnya; ramadhan bulan penuh pahala dan ampunan dilipat gandakan. Mana aku tahu soal itu, jangankan mengenyam pendidikan agama, baca tulispun aku buta mati. Aku menyalahkan orang tuaku karena itu, tidak!!! Kenapa harus menyalahkan mereka, sementara kenal keduanya pun, tidak.

Aku besar di jalanan, orang-orang bilang aku jatuh dari tangan pengemis satu ke pengemis yang lain. Hingga sebesar sekarang punya istri yang kunikahi tanpa surat nikah, malah punya anak lima. Tapi untunglah aku besar di dunia pengemis, yang membuatku ogah jadi pengemis juga. Pekerjaan payah kalau dikerjakan oleh orang yang punya tenaga, kaki, tangan, panca indra lengkap sepertiku, jadilah aku pemecah kerikil merangkap pengeruk pasir tradisional.

Sekali lagi aku gembira kalau ramadhan tiba, sebab pekerjaan sedikit berkurang karena  hanya memberi makan dua kali sehari kepada keluargaku. Andai itu berlangsung selama setahun penuh, barangkali aku juga punya piyama sederhana yang bias kupakai ke mesjid, juga anak-anak dan istriku. Sayang hanya sebulan.

Tidak tahu kenapa kalau ramadhan tiba, perut-perut keroncongan yang mengisi rumah kardus beratap ilalang yang merupakan istana bagiku sekeluarga cukup mampu bertahan dari pada biasanya.

“Daeng”….istriku mencegat langkahku. “Sudah tidak ada lagi beras jagung daeng, bagaimana sebentar?”

“Limah…Limah…. Kau ini seperti tidak pernah berada pada keadaan yang buruk dari ini.” Suaminya menanggapi tenang. Terdiam sejenak dan berkata lagi.

“Ya…kalau sudah tidak ada lagi sesuatu yang bias dimakan, pergilah ke mesjid bantu orang disana membersihka sisa buka puasanya, kalau yang di atas menghendaki pasti ada sisa-sisa kue atau makanan lain setelah orang berbuka.”

“Tapi daeng…malu-maluma daeng sudah empat hari puasa saya seperti itu. Berpura-pura membersihkan piring-piring makanan sisa kemudian memasukkan kekantung plastic untuk saya bawa pulang dimakan kita sekeluarga”. Sahut istrinya dengan nada lirih.

“Ha…ha…aku benar-benar tertawa lepas, kenapa malu Limah, kau tak mencuri dari pada makanan itu dibuang jadi santapan kucing, kan masih lebih baik kalau masuk diperut kita yang memang sedari tadi pagi hingga magrib keroncongan. Kau mau menyesal, hidup bersama saya seorang pemecah batu kerikil yang dapat upah kalau kerikilnya dilirik orang atau pasirnya diminati orang. Pas uangnya diberikan langsung ludes bayar hutan”. Menutup bicaranya dengan tersenyum simpul.

Cerpen : Doe Panai' (Siti Tasniah)




Apa…sepuluh juta…!!!
Pammali ce’lanaji into ammakku Daeng. Saya ini bukan barang Daeng
Betul Maria tapi dimana lagi aku akan mencukupkan permintaan keluargamu yang rasanya mencekik leherku. Tak bisakah aku menikahimu denga diriku yang kujaminkan untuk kebahagiannmu, aku punya cinta untuk Maria, cinta yang  selalu akan mencukupkan kita bila kau dan keluargamu bisa melihatnya dari sisi kemanusiaan.

Daeng aku mencintaimu kau tahu itu tapi aku adalah anak dari bapakku anak dari ammakku, adik perempuan satu-satunya dari dua orang kakak laki-lakiku. Kalau kau berniat hendak melamarku menjadi istirimu dengan mengandalkan uang sepuluh juta itu. Demi Tuhan Daeng urungkanlah niatmu. 

Maria kenapa harus niat suciku yang kukorbankan? Dimana semua kata cintamu selama ini padaku?
Tampak putus asa, Maria tertunduk mencari kata yang paling tepat yang bias Nando terima, tapi kata-kata itupun raib di permukaan tanah seperti mengikuti jejak rasa yang mulai terkena gaya gravitasi bumi.

Baiklah Daeng tunaikan niatmu, tapi kau tentu tahu jawaban apa yang bakal kamu terima dari keluargaku. Maria pasrah. Ya…pasrah dalam banyak hal, pasrah ketika dia tahu tak mungkin cintanya bertaut bila sepuluh juta itulah yang dipatok pasti oleh Nando. Dan apakah mungkin dia akan memilih silariang, ooo….Tuhan jangan kau hadapkan aku pada pilihan itu pinta Kamaria nyaris setengah berteriak.
***
Entahlah keberanian dari mana yang Nando peroleh, suatu ketika ia kerumah Maria wanita cantik seorang sarjana dari kampus terkenal punya harapan masa depan yang cemerlang, dia bermaksud meminang gadis itu, gadis yang dicintainya dan pun dia yakin cintanya tak bertepuk sebelah tangan.

Seperti terjatuh terkena pula durian runtuh tapi bedanya bukan rasa lezatnya yang menggiurkan tapi durinya tertusuk pula ke dalam hati bahkan terbenam di sana dengan gagahnya, nafasnya mungkin sesak tapi lebih para ingin rasanya nafas itu ditinggalkannya di ruang keluarga Maria, ketika mata melotot ekspresi wajah geram, murka dan sangat tersinggung orangtua dan saudara-saudara laki-lakinya menolak mentah-mentah niat tulusnya yang bermodal sepuluh juta.

Doe panai yang tak disanggupinya membuat Nando nyaris gila beberapa waktu, Maria yang diharapkan bias bertanggung jawab pada perasaannya pun hanya terdiam kaku di balik dinding batu kamarnya, seolah ikut memperjelas rasa sayangnya yang mulai membatu dan tak kenal lagi kelembutan.

Pagi buta yang basah di awal tahun yang basah, di atas kenangan cinta yang basah sebab airmata yang sekarang belajar mongering, ketika ketukan yang kedengaran terburu-buru mengganggu harapan mimpi Nando. Maria dating dengan seransel pakaian meminta Nando kawin lari bersamanya.

Silariang Maria…! Tidak Maria, kau sudah kecewakan aku, aku dating memintamu baik-baik, bukan dengan jalan seperti ini kau buktikan cintamu padaku. Tidak Maria tidak akan kupenuhi hasratmu bersatu denganku dengan jalan Silariang. Kemana kamu saat aku dating ke rumahmu memintamu dengan sepenuh hati meski yang kupunya hanya sepuluh juta, kau bersembunyi Maria seolah hanya aku yang memiliki rasa cinta ini. Pulanglah aku bukan laki-laki yang menyerah begitu saja pada cinta lupakan aku, masih banyak orang yang bisa memenuhi doe panai yang dipinta keluargamu.

Hujan telah luruh ke bumi seperti hujan yang telah jadi badai di hati Maria. Ia sudah nekad menemui kekasihnya untuk silariang, tapi Nando hanya memakinya bahkan melemparnya ke jurang rasa sakit yang tak terperi.
***
Di rumah Maria telah dipersiapkan banyak hal menyambut lamaran Maria dari laki-laki lain dan menurut kabar yang beredar menyanggupi berapapun permintaan keluarga Kamaria. Meski mereka belum tahu Kamaria sebenarnya pagi buta tadi hendak meninggalkan rumah silariang. Sayangnya niat itu tak bersambut. Sayangnya niat itu tak bersambut.

Bersama rasa malu yang melebihi gunung, Maria kembali pulang. Sekarang dia akan menantang congkaknya dunia dan congkaknya doe panai yang didewakan orang.

Ketika acara lamarannya usai dan sisa menunggu doe panai itu diantar beriringan dengan gaun mewah dan sorak kendaraan, orang-orang yang bangga telah mampu membelinya dengan sejumlah doe panai mengantarkan harga dirinya.

Ketika rombongan yang mengantarkan doe panai tiba lengkap dengan bosara yang berisi beragam jenis kue tradisional Maria pun telah siap.

Senyum orang-orang yang ada di ruangan ini mekar tak tertandingi mereka melirik Maria yang cantik dalam balutan kebaya modern seperti mawar yang mekar sempurna, tapi di mata Maria seperti menangkap taring pada senyum itu. Sebentar lagi pikirnya!

Doe panai itu telah ada di genggaman orangtuanya, tentu dalam hitungan menit akan berpindah ke tangannya sebagai harga dari dirinya. 60 ikat uang ratusan dalam balutan per sepuluhnya, itu lah doe panai’nya yang paling ditunggu bukan sepuluh tapi 60. Doe itu hanya akan dipegangnya dalam hitungan menit yang selanjutnya kembali akan berpindah tangan ke orang tuanya, hanya sekadar mensakralkan uang itu hingga bias dipegangnya pula.

Ketika uang itu sampai di tangannya, Maria pamit sebentar ke kamarnya, saya mau melihat dengan jelas doe panai ini hanya lima menit.

60 juta, 60 juta dalam hitungan detik telah menjadi ratusan kali lipat di tangan Maria bersama guntingnya doe panai itu diguntingnya dengan sangat puas hingga menjadi serpihan-serpihan tak jelas bersamaan dengan kesadaran totalitasnya yang sepertinya menjauh dari dirinya. Maria berlari keluar melempar ke udara semua doe panai’nya.

Ambil semua doe panai ini wahai alam, banyak yang lebih membutuhkannya dari pada aku khaak kh hah ha hah ii hh, khukhu hi hi khuu hhi. Maria telah kehilangan kesadaran sepenuhnya meski kini bukan lagi batinnya yang terluka tapi fisiknya pun memar, babak belur dan berdarah ketika nyaris semua orang yang tadi tersenyum kini berbalik mengahajarnya.


Thursday, August 4, 2016

Cerpen : Seribu Wajah (Siti Tasniah)




Mereka menatap tak percaya, seolah apa yang kuucapkan datang dari dunia lain. Tapi terus saja ocehan itu keluar dari mulutku. Bahkan rimanya semakin menantang mata melotot yang jumlahnya tak sedikit. Orang harus bermimpi agar tahu cara mewujudkannya, orang harus melangkah sejengkal agar tahu rasanya berlari, dan orang harus untuk tahu rasanya sakit dan obatnya. Uffhhhh tarikan nafas panjang itu pertanda sedang kuambil jeda untuk lanjut berkicau lagi.

“Stop, stop dulu Tasniah.” Tersengal suamiku menahan diri dan menahan agar suaraku tidak membesar di hadapan orang-orang ini. “Sayang…saya percaya pada semua yang kau katakana barusan, tapi adakah kau bisa mengerti sedikit bahwa itu berat.”

“Maaf bila senyumku kali ini padamu tidak ikhlas seperti biasanya.” Kembali kupotong pembicaraan orang yang sangat kuhargai itu. Berat bukan berarti tidak ada kekuatan yang bias mengangkatnya. Saya mengerti yang saya ucapkan susah untuk mewujudkannya, sebenarnya di situlah letak tantangannya. “Kenapa orang harus sekolah, kata harus itu karena apa? Karena sekolah itu berat! Semuanya akan terasa berat kalau kita tidak berani melakukannya. Sekarang siapa yang berani diantara bapak ibu saudara saudari sekalian?” Perkataanku kali ini sepertinya berat. Terbukti jemari suamiku langsung mencari celah diantara jariku dan membawaku menjauh dari kerumunan orang yang sedari tadi seperti mendengar khutbah tak berujung dariku.

“Sayang….!” Aku tersenyum padanya pada lelakiku yang kuyakini amat paham perempuan seperti apa yang dipilihnya menjadi pendamping hidupnya. Kuremas jarinya sebuah kalimat kubisikkan di telinganya. “Sayang kemustahilan yang masuk akal niscaya lebih baik dari kemungkinan yang tak meyakinkan”. Bola matanya membesar sedetik dua detik, tiga detik sebelum dia tersenyum penuh kesungguhan ke arahku.

Siang yang basah mereda berganti rintik halus dan sepoi bayu yang seolah takut membuat bunga markisa sepanjang koridor sekolah yang baru mekar luruh ke bumi karena hempasannya. Bahkan alam pun bias melunak member harapan bunga-bunga kecil itu untuk mekar sempurna member warna pada hari.

Permintaanku cukup sederhana sebenarnya meminta rapat dewan guru kali ini untuk kembali menghidupkan kelas bahasa kelas budaya orang dulu mengenalnya. Tapi terdengar aneh karena kelas bahasa telah beberapa tahun di non aktifkan di kabupaten tanah tumpah darahku ini. Konon kelas bahasa hanyalah kelas dengan kumpulan siswa yang “tidak diharap” hadir dan eksis di sekolah tersebut. Kelas bahasa hanya akan menjadi momok yang menakutkan. Hal yang akan membuat prestise sekolah mengalami pendangkalan mutu di mata orang sedaerah. Sudah terlalu banyak kisah pilu yang dihasilkan alumni-alumni kelas bahasa di SMA tidak pandang negeri atau milik yayasan swasta sekalipun. Mereka menghindari pembentukan kembali kelas bahasa dengan pertimbangan nama baik sekolah harus diselamatkan dengan mengorbankan kelas bahasa.

Dan apa aku salah bila semua itu membuatku heran bercampur aduk dengan kesal kenapa kelasnya yang dipersalahkan diberi vonis mematikan. Kejam!

Mengapa bukan orang dengan status professional digaji karena keprofesionalannya itu mencari sebab yang lebih pada pencegahan penyakit kronis kelas bahasa bukan malah tersenyum dan asyik saja kelas-kelas lain dibuka bahkan ditambah meski tidak proporsional lagi asal bukan menghadirkan kembali kelas bahasa. 

Hatiku kembali teriris dan kini saatnya luka teriris itu sembuh bukan dengan membalutnya membuatnya tampak sembuh tapi tidak, bukan dengan mengolesinya dengan berbagai anti bakteri biar kuman lain tidak hinggap tapi kutemukan cara mengobatinya dengan membuka lebar luka itu memperlihatkannya ke muka orang ini lukaku, dan akan kunikmati setiap wajah yang memandangnya di situlah ketemukan obatnya  ya… mata orang yang memandangnya adalah obatnya, sebab mata itu tak bias bohong, mana mata yang berpura-pura kasihan dan mana mata yang memang peduli.

Suasana ruang guru kelihatan sedikit tegang ketika kulangkahkan kaki kembali ke sana diapit lengan kekar suamiku, mereka memandangku dengan sedikit menantang mungkin dipikirnya aku sudah menyerah.
Hmm… aku tak sedang melegakan tenggorokanku, tapi sekadar mengingatkan yang hadir di tempat ini bahwa suaraku masih tersisa 90% dari keraguan mereka mendengarku angkat bicara lagi.

Kita harus membuka kelas bahasa meskipun status sekolah kita adalah sekolah baru, ya….baru angkatan pertama justru dengan mereka adalah angkatan perdana selayaknya kita memberi ruang kepada mereka untuk bisa berbangga pada dunia bahwa merekalah generasi pertama. Kita tidak perlu khawatir kelas bahasa akan mencoreng muka kita sebagai gurunya karena mereka adalah anak kita  yang bias melahirkan mereka kembali menjadi manusia yang besar dengan laku prestasi dan akhlaqnya. Mendidik mereka menjadi manusia terdidik, melatih mereka menjadi manusia terlatih, mendampingi mereka menjadi manusia pendamping yang sempurna dan mari kita tunjukkan pada mereka yang menasbihkan kelas bahasa bahwa kelas bahasa yang ada di sini adalah kelas yang siap tumbuh, membesar, merindangi dan menghangatkan. Pemberi oksigen, pemberi nafas baru bukan buatan tapi menyejukkan. Kututup pidato persuasifku dengan salam yang ramah. Bahkan aku sendiri pun heran suara murni itu bisa keluar dari relung hatiku tanpa terbias emosi dan kedongkolan.    
Prok….prok….prokkk prokk prokk

Satu tepuk tangan oh bukan dua tepuk tangan bergelora dalam ruangan ini, satu kudapat dari suamiku orang yang telah banyak belajar memahami setiap keinginanku dan yang kedua tepuk tangan itu bukan tanganku, tapi tangan penentu kebijakan di sekolah ini. Mataku takjub dengan pemandangan ini seperti baru bertemu oase setelah perjalanan panjang nan melelahkan. Semua mata tertuju kepada tepuk tangan kedua itu mata yang menyiratkan keheranan bersama beribu tanda Tanya yang kuyakini terpental saat tepuk tangan itu bergelora.

Kita wajib mengapresiasi sesuatu yang diyakini mampu membawa pada kemaslahatan yang besar dan saya kira memang ini adalah peluang besar bagi kita untuk pembukaan kelas bahasa. Kalau sekolah lain meniadakan, kita justru membuka pintu selebar-lebarnya. Sebuah kalimat paresiasi yang singkat tapi sangat sarat perintah.

Mataku beralih pada mata lain yang tentu akan bergejolak. Benar saja hamper semua tangan kecuali tangan kami bertiga tentunya mengacungkan jari. Silakan pak dengan suara merendah pimpinan rapat sekaligus penentu kebijakan mempersilahkan salah seorang dari mereka.

“Aduh pak sepertinya keputusan tadi bias ditinjau kembali, bagaimana dengan peminat kelas bahasa itu sendiri pak? Kalau angkatan pertama ini tidak memilih berarti percuma kelas bahasa dibuka. “Suaranya meski dipaksa ringan tetap saja kedengaran memilukan di telingaku. Tapi ini bukan kewajiban dan hakku untuk menjawabnya.

“Ya seperti yang bapak katakan ini sudah menjadi keputusan, dan mengenai peminatnya yah bagaimana kita tahu ada peminatnya kalau kelasnya tidak dibuka. Dengan senyum, kalimat itu terlontar dari penentu kebijakan. Sangat arif dan membuatku nyaris meledak tertawa.

Ketika kau berani bermimpi
Maka beranilah untuk bangun
Bukan untuk melanjutkan mimpi
Dengan khayal yang tak selesai
Tapi bangunlah untuk menyelesaikan mimpi itu bersama yakinmu
(5 larik puisi tercipta begitu saja di kertas catatan rapatku hari ini)

Seperti calon legislatif kampanye dan kampanye. Itulah yang kulakukan berdua dengan suami. Bedanya tak kutaburi mereka janji-janji politik yang bohongnya di atas 50%, tapi kupompa semangat mereka untuk belajar memacu diri meski dengan status siswa desa yang terbiasa jadi penonton. Dan andai Bung Karno masih hidup entah senyum apa yang diberikannya pada usahaku mencari peminat kelas bahasa. Ketika kalian memilih kelas bahasa, kita bersama akan membuat sebuah catatan perjalanan dalam sebuah buku tentang “Seribu Wajah” tentang cinta kita pada hidup tentang mimpi yang perlu diselesaikan. Sebab hidup adalah pilihan anakku !!!

Dengarkanlah…
Pada seribu wajah
Biarkan mimpi itu menemanimu
Memberi ruang mengambil nafas
Mencintaimu dengan tak bosan
Kau tak lantas jadi lain
Tidak membesar pun tidak mengecil
Kau tetap anak-anakku yang kulahirkan kembali
Untuk meyelesaikan mimpimu…..
Bantaeng, 15 Januari 2004

Wednesday, July 27, 2016

Cerpen : Menetau, (Ahmad Ijazi H)


Subuh belum melepuh, sungguh. Tetapi Emak telah melipat daun juang-juang, beras basuh dan bertih, inggu serta setanggi ke dalam tengkalang yang hendak dibawa lakinya, Datok Pawang Musa ke kampung Teluk Lubuk, kampung pulau seberang.

Datok Pawang Musa melangkah ke sudut ruangan, hendak mengambil tanjak bermotif pucuk rebung kesayangannya. Tetapi, nihil. Sejenak ia sangsi, tertegun, lalu mengingat-ngingat kapan terakhir kali ia mengenakannya. Dan sungguh, ingatannya begitu payah. Ia akhirnya menyerah, beringsut menyambang bibir pintu, melenyapkan segala risau yang mulai kisruh dari ceruk sanubarinya.

Datok Pawang Musa mengecup pucuk perut Emak yang tengah mengandung hampir 9 bulan itu sebelum menuruni anak tangga rumah. Aku mengekor di belakangnya dengan langkah seekor anak rusa yang malas, sembari sesekali menguap karena menahan kantuk yang terlampau mengikat pelupuk mata.

Tiba di lokasi, kokok ayam masih hingar, sahut-menyahut menguak kabut yang begitu membeku. Sebagian orang masih nyenyak membalut badan dalam bantalan selimut. Tetapi tidak bagi Datok Pawang Musa.

Ia begitu terjaga, begitu buas. Matanya mengkilat, senada dengan nyala api lampu damar yang dikibar-kibarkan oleh hembusan angin.

"Wahai Datok Puake yang bersemayam dalam rimba ulayat. Sembah hormat tak kunjung genap kami haturkan. Dengan segala kerendahan hati, izinkan kami mematikan tanah ini." Datok Pawang Musa menabur tepung tawar di antara belukar yang terhampar. Di wilayah yang nantinya akan dibangun rumah itu telah diberi patok kayu beberapa hari sebelumnya sebagai penanda. Dengan begitu, segala makhluk halus yang bermukim dan beranak, pinak di sana dapat meninggalkan tempat itu dengan segera.

Subuh mulai singsing saat jarum-jarum mentari menyeburkan cahayanya yang tipis dari punggung bukit. Disisi sebelah barat, Batin Monti Raja Lamatoa membakar inggu dan setanggi. Aromanya yang wangi semerbak, menusuk penciuman.

Seluruh hadirin hening, mengkuduskan tatapan serta detak jantung yang tak kunjung jinak lantaran kehadiran kehadiran makhlu halus serta roh para leluhur mulai terasa, tetapi tak mengusik. Sebelumnya, Datok Pawang Musa memang telah mewanti-wanti, jika selama prosesi menetau dilaksanakan, dilarang meninggikan suara, tertawa dan berseloroh dengan kata-kata cabul 

Di antara obor dan sesaji yang dipersembahkan, beberapa ekor hewan sembelihan telah ditada darahnya. Tetes-tetesnya yang dianggap keramat menjadi penanda begitu sakralnya tanah itu akan dimatikan.

Wan Abdul Syarif, sang pemilik tanah, duduk bersila ditengah-tengah kerabat dekat dan jauh yang turut diundang sejak jauh-jauh hari. Teluk belange cekak musang yang ia kenakan tampak serasi dengan tanjak yang memahkotai kepalanya. Tengku Wardi Kusuman, abang iparnya yang duduk berimpitan dengannya tiba-tiba berseloroh dengan suara rendah.

"Datok Pawang Musa itu lancang sekali, melangkahi adat orang tempatan. Beliau bermukin di Teluk Sengerih, kampung pulau seberang. Berani-beraninya ia menilap untung Datok Pawang kampung kita, Teluk Lubuk." Tengku Wardi Kusuman menekan amarah yang mulai  bermukim di ceruk dadanya.

"Kabarnya Datok Pawang Derajat, yang biasanya mewangi kampung ini sedang sakit keras. Sementara, hari ini, senin terakhir bulan Maulud yang dianggap baik untuk membangun peraduan. Jika menunggu beliau sembuh, acara menetau terundur lagi sampai bulan Maulud tahun depan. Segala sesaji yang telah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari bisa mubazir terbuang sia-sia." Wan Abdul Syarif mencoba memaparkan alasannya yang memang masuk akal itu.

"Tuju yang Datok Pawang Musa lepaskan rupanya teramat ampuh. Hampir genap 13 pekan Datok Pawang Derajat terbaring lemah sebagai pesakitan di pembaringan, riwayat sembuhnya belum terembus juga hingga hari ini."

"Dari mana Abang tahu kalau Datok Pawang Musa telah bermain teluh di wilayah pacuan hitam seperti itu? memasang tuju? Picik sekali."

"Penghormatan sebagai Pawang paling andal, paling sepuh, paling sakti. Kesejahteraan hidup akan terjamin jika Batin Monti Rajo sampai menyematkan predikat mulia  itu di pundak Pawang terpilih. Siapapun pawangnya, pasti tergiur pada hal yang demikian. Tak peduli bagaimana pun caranya, pasti akan ditebus."

Batin Monti Rajo yang berpendengaran tajam itu menoleh, menatap penuh curiga ke sumber suara yang mulai menabur kisruh. Hawa yang memancar dari tatapannya begitu panas, mengandung api. Itu sebuah isyarat agar seluruh hadirin bergeming.

"Hati-hati berseloroh yang tak patut. Segala bala dan bermacam sengkala bisa berbalik pada pemilik lidah yang melepas fitnah." Wan Abdul Syarif berbisik.

Jeda waktu terasa semakin menyusut di sini. Dan kata-kata yang sebelumnya begitu ditabukan  itu telah meluncur dari mulut yang berbisa. Aku sungguh perih mendengarnya.

Betapa, abahku. Datok Pawang Musa itu, hanya melaksanakan tugasnya sebagaimana petue, tak ada cara hitam, tak ada teluh. Pacuan yang ia lalui adalah pematang yang lurus, tiada kecurangan setitik pun, dan bahkan pamrih. Jikalaupun ada, hanya sekadar penampal kebutuhan hidup sehari-hari, tak pernah berlebih. Kenyataannya, keluarga kami tetap saja miskin. Sungguh jauh dari predikat sejahtera yang digunjingkan orang-orang sekampung.

"Kekayaan dan pangkat bukanlah tolak ukur kebahagiaan, Nak. Menjadi pawang bukan materi yang dikejar, tetapi kepatuhan pada aturan adat, lelihur Sang pencipta. Upacara menetau adalah salah satu cara manusia bersyukur, menjaga keseimbangan  alam agar tetap terpelihara, sehingga segala malapetaka dijauhkan dari badan." Abah pernah mengatakan hal itu dengan begitu haru. Hingga kini, aku tetap memaknainya sebagai petuah yang sakral, karena benar-benar tulus keluar dari hatinya.

Batin Monti Rajo Lomatoa bertuma'ninah di hadapan hadirin. Merentang tangan, bersiap untuk memimpin doa.

Mata elangku menangkap warna sinis dari garis wajah  Tengku Wardi Kusuman. Tabiat lelaki itu memang tidak pernah berubah. Dari dulu hingga kini, kicauan mulutnya semakin terdengar membusuk di telinga. Semakin lekat memandangnya, dendamku kian kesumat. Betapa tidak, setahun lalu, aku ingat sekali, ia pernah bersekongkol  dengan investor asing untuk mengusir kami dari tanah leluhur melalui sengketa lahan. Pemukiman kami akhirnya berhasil dieksekusi. Barisan tentara yang mereka bayar waktu itu benar-benar membuat tenaga kami lumpuh saat melakukan perlawanan.

Tetapi kini, di pemukiman yang baru, kami tak akan sudi lagi dipecundangi. Tanah ulayat yang kami miliki telah diberi sertifikat hak milik, dan dilindungi pemerintah sepenuhnya.

Doa dari Batin Monti Rajo Lamatoa telah smpai ke pucuk langit. Desir angin menyambut, mengarak awan putih yang menaungi. Tiba-tiba seorang bujang yang sepertinya penduduk tempatan itu menyeruak keheningan upacara dengan tergopoh-gopoh. Usaia merunduk hormat terlebih dahlu, sepatah bisiknya bercebis di telinga Batin Monti Rajo Lamatoa. Agaknya kabar, yang dibawanya teramat penting sehingga tak seorang pun boleh mencuri dengar.

Batin Monti Rajo Lamatoa berdiri di hadapan seluruh hadirin. Salamnya  di mukadimah terasa bergetar, lalu diikuti ucapan innalillah yang begitu serak dan berat. Degup dadaku  begitu berguncang, begitu juga kurasa yang di alami seluruh hadirin saat beliau kemudian mengabarkan bahwa Datok Pawang Drajat telah meninggal dunia.

"Usai acara menetau ini, baiknya kita semua melayat ke kediaman almarhum. Semoga dengan kedatangan kita, kedukaan keluarga yang ditinggalkan bisa sedikit terobatkan."

Langkah pelayat berduyun-duyun setelah itu. Mendung begitu hitam saat kami sampai di halaman anjung almarhum. Tak dinyana, seorang lelaki gempal menyeruak dari ambang pintu. Tapak kakinya berdebum saat menuruni anak tangga. Tiba-tiba, seperti dentam halilintar, kepalnya yang keras mendarat di rahang abahku!

Abahku terjungkal di atas tanah. Aku terenyak. Darah segar mengucur di sudut bibirnya yang pecah.

"Kau tak pantas menginjak tanah kami, bangsat!" dilemparkannya sobekan-sobekan kain bermotif pucuk rebung ke wajah abahku. Aku menelan ludah. Itukan kain tanjak milik abahku yang hilang?

"Potongan kain beracun itu kan yang dah kau kirim buat bunuh abahku?! Sungguh kau jembalang laknat! Kau pantas mati!!" Lelaki gempal itu mencabut belati dari pinggangnya. Batin Monti Rajo Lamatoa sigap mendekapnya dari belakang. Dengan suara serak, disuruhnya abahku pergi.

Lelaiki gempal itu mengamuk. Sumpah serapahnya begitu mengerikan, memekakkan telinga. Terpaksa orang-orang membantu Batin Monti Rajo Lamatoa menenangkannya.

Pemandangan langit kian suram. Petir dan guntur beradu, mengiring langkah kami yang telah ringkih menjejak tanah. Di perbatasan kampung, kami terduduk lumpuh. Di ujung sana tampak orang berduyun-duyun. Puluhan lelaki gempal, yang merupakan kerabat dekat dari almarhum Datok Pawang Derajat itu sedang mengamuk memporak-poramdakan peraduan kami dengan menggunakan balok kayu.

Aku dan abah berlari menghampiri rumah kami yang semakin puing itu, berteriak-teriak histeris meminta mereka berhenti. Tetapi mereka tak peduli.

"Jika sampai besok pagi kau masih menginjak tanah ini, kami tidak akan segan-segan membunuhmu!" seorang dari mereka menuding wajah abahku dengan murka yang teramat pitam. Mereka lalu melangkah pergi dengan gumpalan hati yang masih memanas.

Jarum hujan gugur tercurah. Dari kejauhan, kulihat Abah menggendong tubuh Emak dari reruntuhan rumah. Dari balik pakaiannya yang basah, menetes darah segar. Sementara Mak Osu Salmah, adik bungsu abahku, menggendong bayi yang masih merah. Dari dekat, kukenali wajah Emak dan bayi merah itu bergantian. Jasad keduanya sama-sama telah membeku.

"Kita harus meninggalkan tanah ulayat ini...." lirih Abah berucap.
Seketika, kurasakan nyawaku seperti ikut terbang ke langit.
***

Catatan: 

  • Menetau: upacara adat membuka lahan atau mendirikan bangunan.
  • Tengkalang: sejenis tas punggung yang terbuat dari anyaman pandan.
  • Datok Pawang: orang yang memimpin upacara menetau.
  • Tanjak: sejenis ikat kepala
  • Puake: makhluk halus
  • Batin Monti Rajo: pemimpin kepala suku yang sangat disegani dan dihormati.
  • Sesaji: sesajen yang diberikan kepada makhluk halus penunggu hutan.
  • Mematikan tanah: sama dengan menetau.
  • Teluk belange cekak musang: pakaian adat khas melayu Riau
  • Tuju: teluh yang dikirim seseorang dari jarak jauh.
  • Petue: petua, orang yang dituakan.
  • Jembalang: setan atau makhluk halus yang sangat jahat.