Thursday, November 9, 2017

Pengertian Haid dan Kategorinya.

Pengertian Haid


Haid adalah dara yang keluar dari rahim seorang perempuan ketika telah menginjak masa baligh. Haid dapat dialami oleh seorang perempuan pada masa-masa tertentu, masa minimalnya adalah satu hari satu malam dan maksimal lima belas hari. Adapun masa normalnya adalah enam atau tujuh hari.

Adapun masa suci paling cepat adalah tiga belas atau lima belas hari dan yang paling lama tidak ada batasnya. Akan tetapi, yang normal adalah dua puluh tiga atau dua puluh empat hari.

Apabila seorang perempuan hamil, dengan izin Allah darah haid itu berubah menjadi makanan bagi bayi yang tengah berada di dalam kandungannya. Oleh sebab itu, perempuan yang sedang hamil tidak mengalami masa haid. Setelah melahirkan, dengan hikmah-Nya, Allah Swt merubahnya menjadi air susu yang merupakan makanan bagi bayi yang dilahirkan. Karena itu, sedikit sekali dari kaum perempuan menyusui yang mengalami masa haid. Setelah selesai melahirkan dan menyusui, maka darah yang ada tidak berubah serta tetap berada pada tempatnya, yang kemudian secara normal kembali keluar pada setiap bulannya, yaitu berkisar antara enam atau tujuh hari (terkadang lebih atau kurang dari hari-hari tersebut).

Dalam menjalani masa haid ini, perempuan dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu: perempuan yang baru menjalani masa haid, perempuan yang telah terbiasa menjalaninya dan perempuan yang mengalami keluarnya darah istihadhah.

Perempuan yang baru menjalani masa haid

Yaitu, perempuan yang baru pertama kali mengeluarkan darah haid. Ketika itu ia berkewajiban meninggalkan shalat, puasa dan hubungan badan, hingga datang masa suci. Apabila masa haid itu telah selesai dalam satu hari atau paling lama lima belas hari, maka ia berkewajiban untuk mandi dan mengerjakan shalat. Apabila setelah lima belas hari darah tersebut masih tetap mengalir keluar, maka ia dianggap mengalami masa istihadhah. Pada saat itu, hukum yang berlaku baginya adalah hukum perempuan yang mengalami istiadhah.

Apabila darah haid itu berhenti di sekitar lima belas hari, lalu ia mengalir lagi selama satu atau dua hari, kemudian berhenti lagi seperti semula, maka cukup baginya mandi, lalu mengerjakan shalat. Selanjutnya, hendaklah ia meninggalkan shalat pada setiap kali mengetahui darah haid itu mengalir.

Perempuan yang sedang menjalani masa haid dilarang mengerjakan shalat sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah: 
"Apabila datang haidmu, maka tinggalkanlah shalat." HR. Bukhari dan Muslim.

Perempuan yang sudah biasa haidh

Maksudnya adalah perempuan yang mempunyai hari-hari tertentu pada setiap bulannya untuk menjalani masa haidnya. Pada hari-hari tersebut, ia harus meninggalkan shalat, puasa dan hubungan badan. Apabila ia melihat darah berwarna kekuning-kuningan atau yang berwarnah keruh setelah hari-hari haidnya tersebut, maka ia tidak perlu menghitungnya sebagai darah atau haid. Hal ini sesuai dengan ucapan Ummu 'Athiyah:
"Kami tidak memperhitungkan sama sekali darah yang berwarna kekuning-kuningan atau yang berwarna keruh setelah lewat masa bersuci." HR. Bukhori. 
Apabila ia melihat darah yang berwarna kekuning-kuningan dan yang berwarna keruh itu pada saat tengah menjalani masa haid, maka darah tersebut termasuk darah haid, sehingga ia belum diharuskan untuk mandi, melaksanakan shalat dan puasa.

Sebagian dari para ulama berpendapat bahwa perempuan yang menjalani haid melebihi dari hari yang biasa dijalani setiap bulannya, maka hendaklah ia bersuci selama tiga hari dan setelah itu laksanakan mandi serta kerjakan shalat, selama keluarnya darah tersebut tidak lebih dari lima belas hari. Karena, apabila melebihi lima belas hari, maka dikategorikan sebagai perempuan yang mengalami masa istihadhah serta tidak perlu bersuci, akan tetapi cukup dengan melaksanakan mandi dan mengerjakan shalat.

Sebagian dari ulama yang lain berpendapat, bahwa keluarnya darah yang melebihi kebiasaan masa haid itu tidak harus meninggalkan shalat karenanya, kecuali jika terjadinya berulang-ulang, dua atau tiga kali. Sehingga pada saat itu, masa haidnya berubah mrnjadi masa istihadhah. Ini merupakan pendapat yang jelas dan lebih kuat (rajih).

Perempuan Yang Mengalami Istihadhah

Yaitu, perempuan yang mengeluarkan darah secara terus menerus melebihi kebiasaan masa berlangsungnya haid.

Apabila sebelum mengalami istihadhah seorang perempuan muslimah sudah menjalani haid yang menjadi kebiasaan pada setiap bulannya dan ia mengetahui hari-hari yang biasa terjadi pada masa haidnya tersebut, maka ia harus meninggalkan shalat selama haidnya berlangsung pada setiap bulannya. Setelah selesai menjalani masa haidnya itu, ia harus mandi, mengerjakan shalat, mengganti hutang puasanya dan boleh berhubungan badan. Akan tetapi, jika ia tidak mempunyai kebiasaan dari masa haid yang tetap dan lupa akan masa atau jumlah hari berlangsungnya haid yang biasa dijalaninya, sedang darah yang mengalir padanya itu berubah-ubah warnanya, terkadang hitam dan terkadang merah, maka ketika darah yang keluar itu berwarna hitam, ia tidak perlu mandi, mengerjakan shalat, puasa dan melakukan hubungan badan. Namun, ia diharuskan mandi dan mengerjakan shalat setelah berhentinya darah hitam tersebut, selama tidak lebih dari lima belas hari.

Sedang apabila darah yang keluar dapat dibedakan antara sebagaian dengan sebagian lainnya, maka ia diharuskan untuk meninggalkan shalat, puasa dan berhubungan badan pada setiap bulannya selama berlangsungnya masa haid yang pada umumnya dijalani oleh kaum perempuan, yaitu enam atau tujuh hari. Setelah itu, diwajibkan atasnya mandi dan mengerjakan shalat.

Perempuan yang mengalami masa istihadhah harus berwudhu' setiap kali akan mengerjakan shalat. Kemudian memakai cawat (celana dalam atau pembalut perempuan) dan selanjutnya boleh mengerjakan shalat, meskipun darah masih tetap mengalir. Di samping itu, juga tidak dianjurkan untuk berhubungan badan, kecuali pada kondisi yang sangat mendesak. Dalil yang menjadi landasan mengenai masalah ini adalah hadits dari Ummu Salamah Ra bahwa ia pernah meminta fatwa kepada Rasulullah Saw mengenai seorang perempuan yang selalu mengeluarkan darah. Maka Rasulullah Saw bersabda:
Hitunglah berdasarkan bilangan malam dan hari dari masa haid pada setiap bula berlangsungnya, sebelum ia terkena serangan darah penyakit yang menimpanya itu. Maka tinggalkanlah shalat sebanyak bilangan haid yang biasa dijalaninya setiap bulan. Apabila ternyata melewati dari batas yang berlaku , maka hendaklah ia mandi, lalu memakai cawat (pembalut) dan mengerjakan shalat. HR. Abu Dawud dan Nasai.

Hadits di atas ditujukan bagi perempuan yang mengalami masa istihadhah yang mempunyai kebiasaan masa haid teratur

Di samping ada juga hadits dari Fathimah binti Abi Jahsyin, dimana ia pernah mengalami masa istihadhah dan Rasulullah Saw bersabda kepadanya:
Jika darah haid, maka ia berwarna hitam seperti diketahui banyak perempaun. Jika yang keluar adalah darah lain (warnanya, yakni darah istihadhah), maka berwudhu'lah setelah mandi dan laksanakan shalat. Karena, darah tersebut adalah penyakit." HR. Abu Dawud, Nasai, dan dishohihkan oleh Ibnu Hibban.

Hadits yang terakhir ini ditujukan bagi perempuan yang tidak mempunyai kebiasaan dari masa haid yang teratur atau bagi perempuan yang lupa akan masa haidnya yang biasa datang menghampirinya pada setiap bulan, dimana darahnya dapat ia bedakan :
"Aku pernah mengalami istihadhah. Darah yang yang keluar itu sangat banyak. Lalu aku datang kepada Nabi Saw untuk meminta fatwa kepadanya. Maka beliau bersabda: Sesungguhnya darah itu keluar akibat hentakan dari syaitan. Jalanilah masa haidmu selama enam atau tujuh hari, kemudian mandilah. Jika kamu telah melihat bahwa dirimu telah suci dan bersih, maka shalatlah pada dua puluh empat atau dua puluh tiga hari berikutnya (pada masa suci) serta puasalah. cara seperti itu yang boleh kamu lakukan. Di samping itu, lakukanlah sebagaimana yang dilakukan oleh perempuan-perempuan yang menjalani masa haid setiap bulannya." HR. Tirmidzi dan beliau menshohihkannya.

Hadits ini ini ditujukan bagi perempuan yang tidak mempunyai kebiasaan dari masa haid yang teratur dan darah yang keluar dari dirinya pun tidak dapat dibedakan.

 

Monday, November 6, 2017

Biografi singkat Syaikh Abdur Rauf as-Singkili.



Syaikh Abdur Rauf as-Singkili atau Abdur Rauf Singkel. Beliau adalah ulama besar dan tokoh tasawuf dari Aceh yang pertama kali membawa dan mengembangkan Tarekat Syattariah di Indonesia. Nama aslinya adalah Abdur Rauf al-Fansuri.

Pada sekitar tahun 1604 H/1643 M. Ketika kesultanan Aceh berada dalam pemerintahan Sultanah (Ratu) Safiatuddin Tajul Alam (w. 1675), Abdur Rauf berangkat ke tanah Arab dengan tujuan mempelajari agama. Ia mengunjungi pusat-pusat pendidikan dan pengajaran agama di sepanjang jalur perjalanan haji antara Yaman dan Mekah. Ia kemudian bermukim di Mekah dan Madinah untuk menambah pengetahuan tentang ilmu Al-Qur’an, Hadis, Fikih, dan Tafsir, serta mempelajari tasawuf.

Ia mempelajari Tarekat syattariah pada Syaikh Ahmad Qusasi (w. 1661), memperoleh ijazah, hingga memiliki hak untuk mengajarkan tarekat tersebut kepada orang lain.

Ia kembali ke Aceh sekitar tahun 1083 H/1662 M dan segera mengajarkan serta mengembangkan tarekat ini. Tarekat yang diajarkannya bertujuan untuk membangkitkan kesadaran akan Allah Swt dalam batin manusia. Hal ini dicapai melalui pengamalan beberapa macam zikir. Murid yang berguru kepadanya amat banyak dan berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Saat itu Aceh merupakan tempat persinggahan para jamaah haji. Ketika di Banda Aceh, tidak sedikit jamaah haji yang kemudian belajar agama dan tasawuf. Di antara murid-muridnya banyak yang kemudian menjadi ulama terkenal seperti  Syaikh Burhanuddin dari Ulakan (Pariaman, Sumatra Barat). Ia juga sering berkunjung keberbagai daerah di Sumatra dan Jawa.

Syaikh Abdur Rauf menjadi Mufti Kerajaan Aceh Yang ketika itu masih diperintah oleh Sultanah Safiatuddin Tajul Alam. Dengan dukungan kerajaan ia berhasil menghapus ajaran Salik Buta (tarekat yang sudah ada sebelumnya) dalam masyarakat Aceh, yaitu ajaran yang menyatakan bahwa para salik (pengikut tarekat) yang tidak mau bertobat, harus dibunuh.

Abdur Rauf memiliki sekitar 21 karya tulis, yang terdiri dari 1 kitab tafsir, 2 kitab hadis, 3 kitab fiqih, dan sisanya kitab tasawuf. Kitab tafsirnya yang berjudul Tarjuman al-Mustafid (Terjemah Pemberi Faedah) merupakan kitab tafsir pertama yang dihasilkan di Indonesia dan berbahasa Melayu.

Salah saatu kitab fiqihnya berjudul Mi’rat at-Tullub fi Tahsil Ma’rifatil Ahkam asy-Syar’iah li al-Malik al-Wahhab (Cermin bagi Penuntut Ilmu Fiqih Pada Memudahkan Mengenal Segala HUku, Syariah Allah). Di dalamnya dimuat berbagai masalah fiqih mazhab Syafi’i yang merupakan panduan bagi seorang kadi. Kitab ini ditulis atas perintah Sultanah.

Di bidang tasawuf, karyanya antara lain ‘umdat al-Muhtajin (Tiang orang-orang yang memerlukan), Kifayat al-Muhtajin (pencukup para pengemban hajat), Daqaiq al-Huruf (Detail-detail huruf), dan Bayan Tajalli (Keterangan tentang Tajalli). Umdat al-Muhtajin ila Suluk Maslak al-Mufridin merupakan karya Abdur Rauf yang terpenting. Buku ini terdiri atas tujuh bab, memuat antara lain mengenai zikir, sifat-sifat Allah Swt, dan Rasul-Nya, dan asal-usul ajaran mistik. Di akhir bukunya, Abdur Rauf menceritakan riwayat hidupnya dan guru-gurunya. Di antara gurunya itu, ia sangat memuji Ahmad Qusasi. Gurunya disebut sebagai “Pembisik Spritual dan Guru di Jalan Allah”.

Abdur Rauf as-Singkili meninggal dunia pada tahun 1693, dalam usia 73 tahun. Ia dimakamkan di samping masjid yang dibangunnya di Kuala Aceh, desa Deyah Raya Kecamatan Kuala, sekitar 15 km dari Banda Aceh. Ia kemudian juga terkenal dengan nama Teungku Syiah Kuala. Ia juga sering disebut sebagai Wali Tanah Aceh. Oleh masyrakat setempat, makamnya dianggap tempat suci dan setiap harinya ramai dikunjungi para peziarah.




Saturday, November 4, 2017

Peribahasa Indonesia



~ CABAI ~

Kecil-kecil cabe rawit.
Meskipun kecil tetap berani ; meskipun kecil tetapi pandai.
Siapa makan cabai, akan merasa pedas.
Orang yang melakukan kejahatan, pasti akan merasakan akibatnya.

~ CABIK ~

Mencabik baju di dada.
Menceritakan rahasia keluarga kepada orang lain.
Mencabik mudah, menjahit susah.
Berbuat kejahatan akan lebih mudah daripada berbuat kebaikan : mencari musuh lebih muda daripada mencari seorang sahabat.

~ CACING ~

Cacing hendak menjadi ular
Mengharapkan sesuatu yang tidak disesuaikan dengan keadaan.
Cacing hendak menelan naga
Rakyat kecil yang ingin melawan penguasa.

~ CALAK ~

Calak-calak ganti asah, menunggu tukang belum tiba
Cobalah dahulu mengerjakan pekerjaan itu sendiri, sebelum meminta bantuan pada orang yang lebih pandai.

~ CAMPUR ~

Bercampur maling sekurang-kurangnya jadi pencecak
Pergaulan akan mempengaruhi dan merubah sifat seseorang.

~ CANDU ~

Seperti orang makan candu, dengan candu sampai mati
Orang yang mempunyai sifat jahat sulit untuk diperbaiki.

~ CELAKA ~

Tiap-tiap celaka pasti ada gunanya
Setiap musibah pasti ada hikmahnya.

~ CEMPEDAK ~

Seorang saja makan cempedak, semua kena getahnya
Salah satu anggota keluarga ada yang berbuat salah, seluruh anggota keluarga ikut menanggung akibatnya.
Mencari cempedak di bawah pohon kelapa
Mengharapkan sesuatu yang tak mungkin terjadi/sia-sia.

~ CENCANG ~

Cencang berlandasan, lompat bertumpu
Mengerjakan sesuatu akan lebih muda bila menggunakan peralatan.
Cencang air tidak putus, pancung abu tidak berbekas
Dua orang sahabat karib yang sulit untuk dipisahkan.

~ CENDAWAN ~

Bagai cendawan di musim hujan
Sesuatu yang penyebarannya cepat sekali.
Dimana cendawan tumbuh, disitu tembilang terentak
Dimana masalah itu timbul, disitulah penyelesaiannya.

~ CEPAT ~

Cepat tangan terjembakan, cepat kaki terlangkahkan, cepat mulut terkatakan
Orang yang lamban dalam segala hal akan mencelakakan dirinya sendiri.

~ CERAI ~

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh
Bila kita bersatu maka segala masalah akan mudah untuk diselesaikan.
Bercerai tidak bertalak
Orang yang telah melakukan hubungan suami istri sebelum menikah.

~ CERDIK ~

Siapa cerdik naik tinggi, siapa calak menang terhitung
Orang yang pandai berbicara untuk menutupi kesalahannya, sehingga orang lain akan percaya bahwa ia benar.
Cerdik bagai ekor kerbau
Orang yang sangat bodoh, sehingga selalu menyusahkan keluarganya.

~ CERMIN ~

Kilat cermin sudah di muka, kilat beliung sudah di kaki
Niat jahat yang sudah diketahui masyarakat.
Jangan bercermin di air keruh
Janganlah member contoh yang buruk kepada orang yang bodoh.

~ CINCIN ~

Seperti cincin dengan permata
Sepasang suami istri yang serasi dan harmonis.
Cincin emas takkan tampan bersama kaca
Seorang gadis yang kaya dan cantik mendapatkan suami yang miskin dan jelek wajahnya.

~ CINTA ~

Pucuk dicinta, ulam pun tiba
Harapan yang telah menjadi kenyataan.

~ COCOK ~

Bagai kerbau dicocok hidungnya
Orang bodoh akan selalu mengikuti apa yang diperintahkan oleh orang lain.

~ CUBIT ~

Siapa yang kena cubit, akan merasa pedih
Orang yang bersalah akan terasa kalau mendapatkan sindiran.
Jangan mencubit kalau tidak mau dicubit
Jangan suka menyakiti hati orang lain kalau tidak ingin disakiti

~ DADA ~

Membusungkan dada
Orang yang suka menyombongkan diri.
Merengkuh ke dada
Orang yang ingin mendapatkan sesuatu yang lebih banyak.
Membelah dada, melihat hati
Berusaha meyakinkan hati seseorang ; menyatakan kesungguhan.

~ DAGING ~

Sebusuk daging dikincah, dimakan juga, seharum tulang dibuang
Berusaha menghapus aib dalam keluarga, aib orang lain tak dihiraukan.

~ DAHULU ~

Yang dahulu mendapat, yang kemudian ketinggalan
Keadaan yang lebih baik dibawah penguasa yang dulu daripada yang sekarang.
Dahulu bajak daripada jawi
Mendahulukan kepentingan orang banyak daripada kepentingan pribadi.

~ DALAM ~

Dalam laut dapat diduga, dalam hati tak dapat diterka
Sulit untuk menebak isi hati seseorang.
Dalam sudah keajukan, dangkal sudah keseberangan
Sudah mengetahui maksud seseorang sebelum dia mengatakannya.

~ DARA ~

Bagai anak dara sudah berkaki
Seorang gadis yang tidak tahu malu.
Bagai anak dara mabuk andam
Seorang gadis yang sedang jatuh cinta selalu mendatangi perjaka.

~ DARAH ~

Telah menjadi darah daging
Sulit mengubah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan.
Hutang darah dibayar darah, hutang nyawa dibayar nyawa
Kebajikan akan dibalas kebajikan, sedangkan kejahatan akan dibalas pula oleh kejahatan.
Berdarah biru
Keturunan bangsawan.
Minta darah kepada dabung
Meminta pertolongan kepada orang yang tidak mampu menolong.
Menakik darah di alu
Melakukan pekerjaan yang sia-sia.

~ DATANG ~              

Datang tampak muka, pergi tampak punggung
Ketika dating tunjukkanlah kelakuan yang baik, begitu pula pada saat pergi.

~ DATAR ~

Jatuh pada datar
Datangnya musibah tidak akan dapat dihindari.
Datar bagai lantai papan, licin bagai dinding cermin
Seorang gadis yang berwajah cantik dan berkelakuan baik ; keputusan yang adil.

~ DAUN ~

Bagai daun di makan ulat
Orang yang mempunyai suatu penyakit.
Bersembunyi di balik daun sehelai
Berusaha menutupi perbuatan jahatnya yang sudah diketahui banyak orang.
Daunnya jatuh melayang, buahnya jatuh ke pangkal        
Meninggalkan perbuatan jahat.

~ DAYUNG ~

Sekali merengkuh dayung, satu dua pulau terlampaui
Sekali bertindak dua pekerjaan dapat diselesaikan.
Minta dedak kepada orang mengubik
Meminta bantuan kepada orang yang tidak mampu.

~ DELIMA ~

Merekah diri bagai delima
Menceritakan rahasia keluarga kepada orang lain.
Bagai mirah delima mukanya
Gadis yang berwajah cantik ; gadis yang wajahnya kemerah-merahan.

~ DIAM ~             

Diam di Bandar tak meniru, diam di laut asin tidak
Seorang pemalas yang tidak mau berusaha tetapi selalu mengaharapkan keberhasilan.
Tak ada meriam, baiklah diam
Kebenaran akan dapat menyangkal segala tuduhan.
Diam ubi lagi kental, diam ubi lagi sentil
Diamnya orang pandai untuk berfikir, sedangkan diamnya orang bodoh hanya untuk menghayal.

~ DINDING ~

Kain peninding miang, uang peninding malu
Uang dapat mengalahkan apa saja.

~ DIIRIS ~

Bagai diiris dengan sembilu
Kata-kata seseorang yang sangat menyakitkan.

~ DUA ~

Karam berdua, basah seorang
Suatu keputusan yang tidak adil.

~ DUDUK ~           

Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi
Dua orang sahabat yang berkedudukan sama ; Orang kaya yang tidak sombong.
Bagai duduk di atas bara
Orang yang sedang kebingungan.

~ DULANG ~

Bagai dulang dengan tudung saji
Suami istri yang tampak serasi.
Lain dulang lain kaki, lain orang lain hati     
Setiap orang memilikinpendapat yang berbeda-beda.

~ DUNIA ~

Dunia selebar daun kelor
Seseorang yang tidak mempunyain wawasan dan pengetahuan.

~ DURI ~

Bagai duri dalam daging
Kata-kata yang menusuk perasaan

~ DURIAN ~

Mendapat durian runtuh
Mendapatkan keuntungan yang sama sekali tak terduga.

~ EKOR ~

Tidak bisa dipegang ekornya
Orang yang tidak dapat dipercaya.

~ ELANG ~         

Seperti elang meyongsong angin
Orang bijak yang menyelesaikan persoalan.
Sepantun elang dengan ayam, lambat laun disambar jua
Laki-laki dan perempuan hendaknya tidak bergaul secara bebas.

~ ELOK ~

Elok bahasa akan bekal hisup, elok budi akan bekal mati
Perbuatan baik akan selalu dikenang orang, meskipun dia sudah meninggal.
Bagai emak mandul baharu beranak
Orang sedang mendapatka kebahagiaan.

~ EMAS ~

Seperti emas baru disepuh
Seorang gadis yang wajahnya cantik sekali.
Emas disangka Loyang
Orang yang baik hatinya disangka orang yang jahat ; orang pandai yang disangkah bodoh karena jarang berbicara.
Kalau tidak emas sepiak, kerja dimana boleh jadi
Orang kaya yang pandai selalu berhasil dalam berusaha.

~ EMBACANG ~

Seperti embacang buruk kulit
Orang yang berwajah jelek tetapi hatinya baik.
Menyimpan embacang busuk
Menyembunyikan rahasia yang sudah diketahui orang banyak.

~ EMBUN ~

Bagai embun diujung rambut
Seorang kekasih yang tidak setia.
Bagai embun di atas daun
Orang yang tidak memiliki pendirian tetap.

~ EMPANG ~

Empang sampai ke seberang, dinding sampai ke langit
Perselisihan yang sulit untuk didamaikan.

~ EMPEDU ~

Pahit rasa empedu, manis rasa gula
Kegagalan adalah awal dari keberhasilan.

~ ENAU ~

Bagai enau dalam belukar, melepaskan pucuk masing-masing
Orang yang ingin menang sendiri ; orang yang tidak mau mendengar nasehat orang lain.
Mati enau tinggal rimba                                                                                                     
Orang yang jahat, jika telah meninggal tidak akan dikenang orang.

~ ENGGANG ~

Menanti enggang mengeram
Menantikan yang sia-sia.
Enggang lalu jatuh, anak rimba mati ditimpanya
Orang yang baik dituduh berbuat jahat.

~ ESA ~

Esa hilang, dua terbilang
Mengerjakan sesuatu harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.






Thursday, November 2, 2017

Biografi Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari.



Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari (w. 1812) adalah pengarang kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan bagi pemeluk agama Islam di Asia Tenggara. Beliau dilahirkan di desa Lok Gabang pada hari Kamis dini hari 15 Shofar 1122 H, bertepatan 19 Maret 1710 M. Beliau adalah anak pertama dari Abdullah dan Siti Aminah (keluarga Muslim yang taat beragama), yang nasabnya sampai pada Nabi melalui jalur Sultan Abdur Rasyid Mindanao.

Sejak masa kecilnya, Allah Swt telah menampakkan kelebihan pada dirinya yang membedakannya dengan kawan sebayanya. Di mana Dia sangat patuh dan ta’zim kepada kedua orang tuanya, serta jujur dan santun dalam pergaulan bersama teman-temannya. Allah swt. Juga menganugerahkan kepadanya kecerdasan berpikir serta bakat seni, khususnya di bidang lukis dank hat (kaligrafi).

Pada suatu hari, tatkala Sultan Kerajaan Banjar (Sultan Tahmidullah) mengadakan kunjungan ke kampung-kampung, dan sampailah ke kampung Lok Gabang alangkah terkesimanya Sang Sultan Manakala melihat lukisan yang indah dan menawan hatinya. Maka ditanyakanlah siapa pelukisnya, maka dijawab orang bahwa Muhammad Arsyadlah yang melukis. Mengetahui kecerdasan dan bakat sang pelukis, terbesitlah di hati Sultan keinginan untuk mengasuh dan mendidik Muh Arsyad kecil bersama dengan anak-anak dan cucu Sultan di istana yang ketika itu baru berusia 7 tahun.

Sultanpun mengutarakan goresan hatinya kepada kedua orang tua Muh. Arsyad. Pada mulanya Abdullah dan istirinya merasa enggan melepas anaknya yang tercinta. Tapi, demi masa depan sang buah hati yang diharapkan menjadi anak yang berbakti kepada agama, Negara dan orang tua, maka diterimalah tawaran sultan tersebut. Kepandaian Muh. Arsyad dalam membawa diri, sifatnya yang rendah hati, kesederhanaan hidup serta keluhuran budi pekertinya menjadikan segenap warga istana saying dan hormat kepadanya. Bahkan, sultanpun memperlakukannya seperti anak kandung sendiri.

Setelah dewasa beliau dinikahkan dengan seorang perempuan yang solehah bernama tuan “Bajut”, seorang perempuan yang taat lagi berbakti pada suami sehingga terjalinlah hubungan saling pengertian dan hidup bahagia, seiring sejalan, seia sekata, bersama-sama meraih ridha Allah semata. Ketika istrinya mengandung anak pertama, terlintaslah dihati Muh. Arsyad suatu keinginan yang kuat untuk menuntut ilmu di tanah suci Makkah. Maka disampaikannyalah hasrat hatinya kepada sang istri tercinta.

Meskipun dengan berat hati mengingat usia pernikahan mereka yang masih muda, akhirnya sang istripun mengamini niat suci sang suami dan medukungnya dalam meraih cita-cita. Maka, setelah mendapat restu dari sultan berangkatlah Muh. Arsyad ke Tanah Suci mewujudkan cita-citanya. Deraian air mata dan untaian do’a mengiringi kepergiannya.

Di Tanah Suci, Muh. Arsyad mengaji kepada Syaikh-syaikh terkemuka pada masa itu. Di antara guru beliau adalah Syaikh ‘Athoillah bin Ahmad al Mishry, al Faqih Syaikh Muhammad bin Sulaiman al Kurdi, dan al ‘Arif Billah Syaikh Muhammad bin Abd. Karim al Samman al Hasani al Madani.

Syaikh yang disebutkan terakhir adalah guru Muh. Arsyad di bidang tasawuf, di mana di bawah bimbingannyalah Muh. Arsyad melakukan suluk dan khalwat, sehingga mendapat ijazah darinya dengan kedudukan sebagai khalifah.

Menurut riwayat, Khalifah al Sayyid Muhammad al Samman di Indonesia pada masa itu, hanya empat orang, yaitu Syaikh Muhammad Arsyad al Banjari, Syaikh Abd. Somad al palembani (Palembang), Syaikh Abd. Wahab Bugis dan Syaikh Abd. Rahman Mesri (Betawi). Mereka berempat dikenal dengan “Empat Serangkai dari Tanah Jawi” yang sama-sama menuntut ilmu di al Haramain al Syarifain.

Setelah lebih kurang 35 tahun menuntut ilmu, timbullah kerinduan pada kampong halaman. Terbayang di pelupuk mata indahnya tepian mandi yang diarak barisan pepohonan aren yang menjulang. Terngiang kicauan burung pipit di pematang dan desiran angin membelai hijaunya rumput. Terkenang akan kesabaran dan ketegaran sang istri yang setia menanti tanpa tahu sampai kapan penantiannya akan berakhir. Pada Bulan Ramadhan 1186 H bertepatan 1772 M, sampailah Muh. Arsyad di kampung halamannya Martapura pusat Kerajaan Banjar pada masa itu.

Terdapat kisah menarik ketika Muh. Arsyad baru pulang dari tanah Arab. Ketika memasuki wilayah Nusantara, daerah yang mereka lewati pertama kali di Sumatera yaitu Palembang, kampung halaman Syaikh Abdus Samad Al Falimbani. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Betawi, yaitu kampung halaman Syaikh Abdurrahman Misri. Selama di Betawi Muhammad Arsyad diminta menetap sebentar untuk mengajarkan ilmu agama dengan masyarakat Betawi. Salah satu peristiwa penting selama di Betawi adalah ketika Syaikh Muhammad Arsyad membetulkan arah kiblat Masjid Jembatan Lima, Masjid Luar Batang dan Masjid Pekojan. Untuk mengenang peristiwa tersebut, masyarakat sekitar Masjid Jembatan Lima menuliskan di atas batu dalam aksara Arab Melayu (tulisan Jawi) yang bertuliskan bahwa kiblat masjid ini telah diputar ke kanan sekitar 25 derajat oleh Muhammad Arsyad Al-Banjari pada tanggal 4 safar 1186 H.

Sultan Tamjidillah (Raja Banjar) menyambut kedatangan beliau dengan upacara adat kebesaran. Segenap rakyatpun mengelu-elukannya sebagai seorang ulama “Matahari Agama” yang cahayanya diharapkan menyinari seluruh Kerajaan Banjar. Aktivitas beliau sepulangnya dari Tanah Suci dicurahkan untuk menyebarkan ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Baik kepada keluarga, kerabat ataupun masyarakat pada umumnya. Bahkan sultanpun termasuk salah seorang muridnya sehingga jadilah dia raja yang ‘alim lagi wara’.

Setelah kurang lebih 40 tahun mengembangkan dan menyiarkan Islam di wilayah Kerajaan Banjar, akhirnya pada hari selasa, 6 Syawal 1227 H (1812 M) Allah Swt. Memanggil Syaikh Muhammad Arsyad kehadirat-Nya. Usia beliau 102 tahun dan dimakamkan di desa Kalampayan, sehingga beliau juga dikenal dengan sebutan Datuk.